Jec,Jakarta  eye center merupakan eye center mutakhir di Indonesia. JEC, JEC, JAKARTA EYE CENTER, Z-Lasik, Lasik, Katarak, Glaukoma, pediatrik, Retina, Bedah Plastik Mata & Tumor Mata, Kontak Lensa, Keratoplasti
Jec,Jakarta  eye center merupakan eye center mutakhir di Indonesia. JEC, JEC, JAKARTA EYE CENTER, Z-Lasik, Lasik, Katarak, Glaukoma, pediatrik, Retina, Bedah Plastik Mata & Tumor Mata, Kontak Lensa, Keratoplasti



  • Lupa kata sandi?
  • lupa ID anda ?
  • Mendaftar



  • Kendali Resiko Diabetes

    & Kebutaan di Tangan Anda

    kendaliPenderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami kebutaan bila dibandingkan dengan bukan penderita. Meskipun begitu, kebutaan dapat dihindari dengan cara menjalani pola hidup sehat. Ibarat masuk ke lift, naik-turunnya kondisi kesehatan ada di tangan anda sendiri.

    Jumlah orang dengan diabetes (diabetisi) di Indonesia diperkirakan meningkat 8-10 kali lipat tiap 25 tahunnya. Penderita diabetes di Indonesia hingga tahun 2008 adalah 8,4 juta.Tapi pada tahun 2030, badan kesehatan dunia WHO memperkirakan ada 21,3 juta penderita diabetes di Indonesia.

    WHO bahkan juga memprediksi Indonesia berpotensi menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak ke-5 di dunia setelah India, China, Amerika dan Pakistan pada tahun 2025. Menurut data Depkes tahun 2008, prevalensi diabetes di Indonesia adalah 5,7 persen, namun hanya 1,5 persen saja yang terdiagnosa (detikhealth.com).

    Salah Distribusi

    Pada dasarnya, tubuh mengubah glukosa dari makanan menjadi energi. Glukosa, yang hanyalah salah satu dari beragam zat gula, bukan melulu berasal dari makanan dan minuman serba manis. Selain berasal dari makanan berkarbohidrat, glukosa juga diproduksi oleh tubuh, yaitu pada bagian hati.

    Dalam keadaan normal, hormon insulin (diproduksi oleh pankreas) mengatur banyaknya glukosa dalam darah. Insulin merangsang sel-sel untuk menyerap cukup glukosa dari darah untuk menjadi energi yang diperlukan, dan menstimulasi hati untuk menyerap dan menyimpan sisa glukosa. Setelah makan, jumlah glukosa dalam darah meningkat sehingga memicu pelepasan insulin. Ketika kadar glukosa dalam darah turun, misalnya karena bekerja atau berolahraga, kadar insulin pun juga turun.

    Diabetes merupakan penyakit di mana tubuh tidak mendistribusi dan menggunakan glukosa secara benar, baik akibat kekurangan hormon insulin ataupun insulin yang tersedia tidak bekerja secara efektif. Akibatnya, terjadi kelebihan gula di dalam darah sehingga menjadi racun bagi tubuh. Sebagian glukosa yang tertahan dalam darah kemudian melimpah ke sistem urin.

    Penyakit yang sudah dikenal sejak 3500 tahun silam ini sering disebut sebagai salah satu silent killer selain hipertensi. Kadar gula di atas normal (hiperglikemi) maupun di bawah normal (hipoglikemi) sama berbahayanya bagi diabetisi. Dampak hipoglikemi malah bisa lebih berbahaya karena oksigen yang mengalir sampai ke otak bisa sangat kurang sehingga menyebabkan kondisi koma dan kerusakan pada otak.

    Rawan Tiga Kebutaan

    Pada tahap awal, penderita diabetes sering merasa lapar dan haus yang yang kemudian berlanjut dengan terjadinya kelainan organis berupa sering pegal, kesemutan, dan lemas. “Semakin lama, fungsional pun terganggu mulai dari penglihatan, ginjal, jantung, dan sebagainya," kata Dr. H.A.M. Ginting, SpM, salah satu ahli glaukoma Jakarta Eye Center (JEC).

    Khusus terkait dengan penyakit-penyakit mata, Dr. Waldensius Girsang, SpM menyebutkan diabetes bisa menjadi faktor risiko terjadinya paling sedikit tiga jenis masalah penglihatan. Pertama, terjadinya gangguan pada retina atau retinopati diabetika. “Bisa terjadi sumbatan pembuluh darah karena diabetes, dan itu harus segera diatasi dengan cara dilaser. Semakin lama dibiarkan, pembuluh darah-pembuluh darah yang tersumbat di retina akan pecah sehingga mengakibatkan penderita kehilangan penglihatannya.” kata ahli retina itu.

    Gangguan yang kedua dari faktor risiko diabetes adalah katarak. Pasalnya, diabetes mempercepat proses kristalisasi lensa sehingga diabetisi lebih cepat mengidap katarak sebelum usia yang seharusnya.

    “Katarak timbul karena gangguan metabolisme sel dalam lensa, sehingga lensanya menjadi keruh dan penglihatan menjadi terganggu karena cahaya tidak bisa masuk ke dalam mata. Tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi katarak adalah dengan operasi,” kata Dr. Girsang.

    Seluruh penyakit yang ditimbulkan diabetes pada mata pada dasarnya menjurus ke arah kebutaan apabila tidak ditangani dengan baik.Glaukoma adalah stadium akhir dari penyakit mata akibat diabetes. Penyakit yang diakibatkan oleh tingginya tekanan pada bola mata ini merupakan penyebab kebutaan nomor dua di dunia dan di Indonesia setelah katarak. Di Indonesia, penyakit ini sendiri diderita sekitar 500.000 orang.

    “Penderita diabetes yang datang ke JEC akan diperiksa apakah ada gangguan retina, kemudian diperiksa apakah ada glaukoma. Pemeriksaan glaukoma meliputi tajam penglihatan, tekanan bola mata, sudut bilik mata, saraf penglihatan, dan lapang pandang," papar Dr. Ginting.

    Umumnya, glaukoma yang dialami oleh diabetisi adalah glaukoma neovaskularisasi, jenis yang terjadi karena adanya suatu penyakit lain ataupun kelainan mata. Umumnya, para penderita glaukoma neovaskularisaki merasakan pandangannya menjadi gelap, sakit pada mata dan kepala, juga timbul rasa mual. Dokter mata akan segera melakukan tindakan operatif guna mengontrol glaukoma dan mengurangi rasa sakit.

    Hidup Sehat

    Mayoritas orang baru menyadari dirinya terkena diabetes ketika sudah mengalami luka yang tidak kunjung sembuh atau gangguan pada organ-organ tubuh. Menurut internis JEC Dr. Djoko Maryono, Sp.PD, Sp. PJ, FASE, sekitar 60 persen penderita mengetahui kalau dirinya memiliki diabetes setelah memeriksa matanya dan 30 persen sisanya tahu karena disfungsi ereksi. Hal ini terjadi karena saraf mata dan dan kemaluan mengalami penyumbatan akibat kandungan gula dan lemak yang tidak terbakar.

    Bagi diabetisi maupun bukan diabetisi, disiplin menjalani gaya hidup sehat merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan kondisi tubuh yang prima. Idealnya, setiap orang harus berolahraga secara rutin sedikitnya 30 menit setiap hari selama minimal lima hari per minggu. Kini banyak pilihan cara untuk menjaga kebugaran, mulai jalan cepat, berenang, aerobik, yoga, bahkan menari. Kombinasikan olahraga dengan pola makan sehat sebagai penghargaan bagi tubuh yang bekerja keras menunjang aktivitas Anda sehari-hari.

    (detikhealth.com, bbc.co.uk, Koran Tempo)

     

     


    kembali ke atas

     

     

     


    GTranslate

    Konsultasi Online 1

    Senin-Sabtu : 9.00 - 17.00

    Konsultasi Online 2

    Senin-Sabtu : 9.00 - 17.00

    Konsultasi Online 3

    Senin-Sabtu : 9.00 - 17.00




      Copyright © 2009 JEC-Online • All rights reserved
    Call Center JEC : (62-21) 315 0642, 315 0360 • Email : jec@jec-online.com